Tampilkan postingan dengan label Gorengan Ramah Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gorengan Ramah Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2015

Makan Gorengan, Biar Ramah Lingkungan

Gorengan, setiap kota ada, hampir seluruh masyarakat Indonesia pernah memakannya bahkan menjadi cemilan favorit di waktu senggang. Tahu isi, bakwan atau bala-bala, pisang goreng, cireng, tempe, molen adalah gorengan yang paling sering dijual dan dinikmati masyarakat. Harganya yang cukup terjangkau semakin mudah didapatkan. 
gorengan ramah lingkungan
Gorengan Yang Sering Dijual
Selain kenikmatan yang ditawarkan, dalam pembelian kemasan yang dipakai menggunakan kertas dari kertas bekas hingga kemasan kertas pesanan dan memakai plastik bahkan dirangkap kertas dengan plastik. Sebagian besar pembeli gorengan akan membawa pulang pesanannya dan mengharuskan untuk dibungkus membawanya. Kemasan kertas dipilih karena dapat menyerap kelebihan minyak pada gorengan. Saat membuat gorengan sendiri di rumah tissue makanan dan kertas minyak juga biasa digunakan untuk mengeringkan gorengan.

Semua jenis kertas dibuat dari kulit pohon dengan menipisnya lahan penanaman pohonnya. Semakin banyak penggunaan kertas maka penebangan pohon akan semakin banyak dan menganggu kesehatan alam dengan banyaknya polusi karena udara CO2 yang dikeluarkan makhuk hidup tidak dapat dinetralisir dan memproduksi oksigen untuk bernafas. Kemasan bekas gorengan tersebut juga cukup sulit diuraikan alam jika di timbun dan jika dibakar akan menyebabkan bertambahnya polusi asap dan udara. Tempat penjual gorengan pun kebanyakan tidak menyediakan tempat tersendiri untuk menikmati gorengannya dan meningkatkan resiko penggunaan kemasan kertas atau plastik. Ekosistem alam yang lain seperti hewan juga ikut terkena dampak dari hal gorengan yang dianggap sepele ini. Berkurangnya lahan hutan atau penebangan pohon kayu menurunkan sumber hidup satwa hutan karna tidak mempunyai tempat tinggal dan mencari makan untuk bertahan. Dalam artikel WWF-Indonesia menyebutkan banyak gajah yang dilindungi mengalami penurunan jumlah populasi karenanya.
Gajah Sedih
Populasi gajah menipis karena pembukaan lahan kepala sawit

Itu hanya sebagian contoh yang paling miris terjadi. Bumi kita yang sekarang sedang menderita, jadi kepikiran bagaimana menikmati gorengan yang ramah lingkungan, apalagi kita yang sangat prihatin dengan kondisi alam saat ini hingga masa depan.  Apa kita perlu mengajukan tempat untuk menikmati gorengan, seperti menyantap makanan di rumah makan atau restoran, atau membawa tempat sendiri saat membeli gorengan, Bagikan idemu dengan berkomentar untuk bisa menikmati gorengan dengan ramah lingkungan tapi tetap nyaman dan fleksibel (dapat di jangkau dimana saja penjual gorengan itu ada), kepedulian kita menyelamatkan masa depan. 

Kontributor

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

 

© 2013 Jadi Pemikiran. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top